Gus Miftah Mengajarkan Islam yang Toleran Sehingga Tercipta Persatuan Indonesia

Kyai fenomenal Gus Miftah dari Yogyakarta menjadi mubaligh pada acara Silaturahim Akbar bertema Aktualisasi Sila Ke-3. Foto : Artadi
Kyai fenomenal Gus Miftah dari Yogyakarta menjadi mubaligh pada acara Silaturahim Akbar bertema Aktualisasi Sila Ke-3. Foto : Artadi

sidorejo-wonogiri.desa.id “Sudah tidak ada lagi 01 dan 02 yang ada 1 ditambah 2 sama dengan 3 yaitu persatuan Indonesia.” Kata Gus Miftah di awal pengajiannya di Lapangan Pertinggen Kecamatan Tirtomoyo, Sabtu sore (13/7/2019). Acara tersebut diselenggarakan oleh Forum Santri Gayeng dan dihadiri oleh Forkopimcam Kecamatan Tirtomoyo, Ketua DPRD Kabupaten Wonogiri Setyo Sukarno, dan puluhan ribu jama’ah di Kecamatan Tirtomoyo dan sekitarnya.

Gus Miftah mengatakan ikut bahagia mendengar kabar bahwa pada hari ini (Sabtu) telah terjadi pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo. Sehingga diharapkan seluruh rakyat Indonesia kembali hidup rukun dan damai.

Rukun itu kata kunci untuk memperoleh ridho Alloh. Dikisahkan pada zamannya Nabi Musa AS terjadi kekeringan panjang sehingga muncul musibah kelaparan. Kemudian Nabi Musa mengajak umatnya untuk melakukan Sholat Istisqo’. Namun ternyata hingga sholat dilakukan ketiga kalinya Alloh tidak menurunkan hujan. Lalu Nabi Musa bertanya kepada Alloh, “Ya Alloh hamba dan umat hamba sudah melakukan Sholat Istisqo’. Namun kenapa tidak turun hujan?” Lalu Alloh menjawab “Aku tidak akan menurunkan hujan kepada kalian karena hari ini ada umatmu yang masih saling membenci, menghujat, dan tidak mau akur.”
Lalu Nabi Musa mengajak umatnya untuk menjadi umat yang rukun, akur, dan senantiasa menjaga persatuan. Hikmahnya bahwa Bangsa Indonesia ingin mendapatkan keberkahan dari Alloh harus menjaga toleransi, menjaga kerukunan, tenggang rasa atau tepo seliro.

Puluhan ribu jama'ah Tirtomoyo dan sekitarnya hadir dan rela berpanas-panasan di Lapangan Pertinggen demi ngaji bersama Gus Miftah. Foto : Artadi

Dedy Corbuzier masuk Islam bukan karena diajak oleh Gus Miftah. Beliau mengatakan bahwa Mas Deddy masuk Islam karena hubungan Gus Miftah dengan Deddy saling menjaga dan saling toleransi. Sehingga kemudian karena Gus Miftah tidak pernah menyalahkan agama Mas Deddy. Beliau juga tidak menyalahkan agama Gus Miftah. Maka terjadilah diskusi. “Apa pandangan Gus Miftah terhadap toleransi di dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan ideologi Pancasila?” Tanya Deddy kepada Gus Miftah. Lalu Gus Miftah menjawab “Ada orang yang mengatakan bahwa semua agama di Indonesia itu benar, menurutku itu salah. Seharusnya masih ada lanjutannya menjadi semua agama itu benar bagi penganutnya. Sehingga orang tidak mudah ganti agama karena menganggap semua agama itu benar.”

Di dalam konteks Pancasila tidak boleh seseorang itu menyalahkan orang lain. Harus saling menghormati. Tentang iman Alloh berfirman Faman sya’a fal yukmin faman sya’a fal yakfur artinya yang mau beriman maka berimanlah, yang mau kafir maka kafirlah. Artinya Alloh laikroha fiddin tidak memaksa dalam beragama. Soal toleransi Alloh berfirman lakum dinukum waliyadin artinya bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Deddy bertanya Makna toleransi di dalam Pancasila itu apa? Bagaimana kita bisa menjaga kerukunan? Gus Miftah menjawab bahwa Indonesia itu rumah besar. Di dalam rumah besar itu ada 6 kamar yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Selama orang-orang yang beragama kembali ke kamarnya masing-masing maka tidak akan terjadi masalah. Yang jadi masalah biasanya orang yang beragama masuk kamarnya orang lain. Inilah benih terjadinya masalah. Gus Miftah tidak sepakat apabila Isu agama menjadi isu perpecahan di Indonesia.

Pancasila mengajarkan bahwa Indonesia adalah negara berke-Tuhanan Yang Maha Esa. Apapun agama yang diakui oleh UUD maka umatnya berhak menjalankan agamanya dengan nyaman tanpa tekanan dari pihak manapun.

Gus Miftah tidak setuju dengan orang yang berpendapat bahwa diskriminasi di Indonesia karena ada kolom agama di dalam KTP. Menurut Gus Miftah kolom agama dibutuhkan contohnya ketika ada korban meninggal saat kecelakaan akan mudah dalam menentukan cara pengurusan jenazahnya karena jelas identitas agamanya.

Di Indonesia ada 6 kamar (agama), setiap kamar ada ranjangnya. Kamarnya orang Islam di dalamnya ada ranjangnya NU, Muhammadiyah, Persis, LDII, MTA, dll. Jika setiap ormas tersebut berada di ranjangnya masing-masing maka tidak akan pernah terjadi masalah. Adanya masalah karena banyak orang mengganggu ranjangnya ormas lain. Contohnya ada ormas MTA mengatakan tahlilannya orang NU itu bid’ah (sesat), maka akan masuk neraka. Padahal Tahlilan merupakan warisan dakwah para Wali Songo yang isinya adalah bacaan tahlil dan do’a. Contoh lainnya ada kelompok yang mengatakan bahwa tahlilan tidak perlu keras karena menurut mereka Alloh tidak tuli. Padahal dalam ilmu kalam Alloh mendengar tidak perlu telinga, sedangkan manusia menggunakan telinga.

Orang yang suka menyalahkan orang lain menurut Gus Miftah karena kurangnya ilmu. Beliau mencontohkan sikapnya orang yang berilmu seperti hubungan antara Kyai Muhammad Darwis atau Ahmad Dahlan dengan Kyai Hasyim Asy’ari. Mereka pernah mondok bersama ke tempat Mbah Sholeh Darat Assamaroni di Semarang. Mbah Sholeh Darat merupakan ahli ilmu tafsir penemu huruf Arab Pegon yang digunakan dalam kitab-kitab di pondok pesantren.

Lalu keduanya disuruh ke Mekah. Disana Kyai Hasyim As’ari lebih sering ngaji ke Syeh Mahfud Atturmuzi dari Termas Pacitan sedangkan Kyai Ahmad Dahlan lebih sering ngaji ke Syeh Ahmad Khotib Al Minangkabauwi dari Minangkabau.

Sepulangnya dari Mekah Kyai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sedangkan Kyai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama.
Disaat Kyai Ahmad Dahlan akan berkunjung ke Jombang (tempatnya Kyai Hasyim Asy’ari), Kyai Hasyim Asy’ari menyuruh para santrinya untuk menyembunyikan bedug untuk menghormati Muhammadiyah yang tidak mengenal bedug. Kyai Ahmad Dahlan ketika sholat Subuh disana ikut menggunakan Qunut karena menghormati NU yang biasa menggunakan Qunut.
Hal yang demikian terjadi pula ketika Kyai Hasyim Asy’ari hendak berkunjung ke tempatnya Kyai Ahmad Dahlan di Kauman Jogja. Kyai Ahmad Dahlan menyuruh para santrinya untuk mencari bedug karena ingin menghormati Kyai Hasyim Asy’ari (NU) yang biasa menggunakan bedug untuk penanda telah tiba waktu sholat, bukan untuk memanggil orang agar sholat.
Imam Maliki dan Imam Syafi’I membaca Qunut. Imam Hambali dan Hanafi tidak menggunakan Qunut. Namun Imam Hambali dan Hanafi tidak melarang orang yang ingin membaca Qunut. Ketika sholat jama’ah harus mengikuti imam karena makmum hukumnya wajib mengikuti imam.

Deddy Corbuzier mulai tertarik kepada Islam karena melihat gaya Islamnya Gus Miftah yang menyenangkan dan toleran. Gus Miftah mengajarkan Islam yang ramah bukan Islam yang marah-marah.

Gus Miftah menyalami para jama'ah dari dalam mobilnya saat pulang ke Jogja. Ribuan jama'ah berkerumun di sepanjang jalan. Foto : Artadi
Gus Miftah menyalami para jama’ah dari dalam mobilnya saat pulang ke Jogja. Ribuan jama’ah berkerumun di sepanjang jalan. Foto : Artadi

Ketika Deddy Corbuzier menelpon Gus Miftah untuk menyatakan bahwa ia tertarik untuk masuk Islam, Gus Miftah awalnya menolak jika masuk Islamnya hanya untuk main-main. “Kalau saya harus masuk Islam bagaimana Gus?” Tanya Deddy. Kemudian Gus Miftah menjawab kalau pintu masuknya marah maka Islammu akan penuh dengan kemarahan. Kalau pintu masuknya keras maka Islammu akan penuh dengan kekerasan. Kalau pintu masuknya lebai maka Islammu akan penuh dengan kelebaian. Namun kalau pintu masuknya ramah maka Islammu akan penuh dengan keramahan dan menyenangkan.

Deddy Corbuzier tanya kepada Gus Miftah “Lalu siapa yang mengajarkan Islam yang penuh keramahan dan menyenangkan itu Gus?” Gus Miftah menjawab “Islam yang diajarkan oleh Ahlussunah wal Jama’ah Annahdliyah. Akhirnya Deddy mengatakan “Kalau seperti ini ya saya masuk Islam sama kamu saja Gus, kan Islammu menyenangkan”.

Facebook Comments
About artadiputra 156 Articles
Saya adalah seorang yang selalu ingin memperluas pengetahuan dan bermanfaat bagi banyak orang. Banyak pengetahuan yang saya peroleh secara otodidak. Namun tidak memungkiri bahwa pengetahuan yang saya peroleh secara formal sangat menunjang kemampuan saya saat ini.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan