Semangat Baru Ranting NU Sidorejo untuk Menegakkan Faham Ahlussunah wal Jama’ah

Pertemuan Rutin Ranting NU Desa Sidorejo setiap Ahad Kliwon. Untuk kali ini bertempat di Masjid Roudlotul Hidayah Mbuyutan, Tempel, Sidorejo, Ahad (2/9/2018). Photo : Artadi

sidorejo-wonogiri.desa.id Dimotori oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Sidorejo, pertemuan rutin setiap Ahad Kliwon kali ini berbeda dari biasanya. Semua Badan Otonom (Banom) di tingkat ranting diundang dalam pertemuan ini. Mereka terdiri dari pengurus Fatayat, Muslimat, Banser, Alumni PKPNU, Pagar Nusa, dan Anak Ranting dari semua dusun di wilayah Desa Sidorejo.

Pertemuan ini diselerenggarakan di Masjid Roudlotul Hidayah Mbuyutan Dusun Tempel Desa Sidorejo, Ahad (02/09/2018) mulai pukul 13.00 WIB. Bapak Anshori selaku tuan rumah dalam sambutannya mengatakan bahwa selama ini kita terlahir di lingkungan NU namun belum faham tentang NU, maka kita perlu belajar tentang NU. Beliau juga mengajak seluruh warga NU khususnya di Desa Sidorejo untuk waspada terhadap faham-faham yang bisa membahayakan faham Ahlussunah wal Jama’ah ala Nahdlatul Ulama. Sekarang ini Bangsa Indonesia semakin terancam karena hadirnya faham Islam yang radikal sehingga rawan menimbulkan perselisihan.

Menurut Ketua Tanfidziyah Shobari pertemuan rutin kali ini sengaja menghadirkan para pengurus Banom NU di tingkat ranting dimaksudkan untuk mempererat jalinan komunikasi dan tali silaturahim antar sesama pengurus di struktur organisasi Nahdlatul Ulama tingkat Desa Sidorejo. Selain itu juga untuk memperluas syiar Agama Islam dengan Faham Ahlussunah wal Jama’ah.

Sesuatu yang sangat penting dalam kegiatan pertemuan rutin Ranting NU Desa Sidorejo adalah adanya acara mengaji Kitab Hujjah Ahlussunah wal Jama’ah karya KH. Ali Maksum dari Krapyak Yogyakarta bersama Ketua Syuriah Kyai Muhammad Nur Sholeh atau biasa dipanggil Kyai Sholeh.

Para Peserta Pertemuan Rutin Ranting NU Desa Sidorejo setiap Ahad Kliwon. Photo : Artadi

Kyai Sholeh membahas Bab I tentang Hukum Kirim Do’a, Shodaqoh, dan Amal Baik Untuk Orang Yang Sudah Meninggal. Berikut ringkasan isi pengajiannya :

Menurut Imam Ibnu Taimiyah : Sesungguhnya orang yang sudah meninggal itu dapat mengambil kemanfaatan dari bacaan-bacaan Al Qur`an sebagaimana kemanfaatan yang diterima dari ibadah maliyah seperti shodaqoh dan sejenisnya. Sedangkan pendapat beliau dalam kitab Ar Ruh dikatakan bahwa : Sebaik-baik perkara yang dapat dihadiahkan kepada orang meninggal adalah shodaqoh, istighfar, do`a dan melaksanakan haji untuk orang yang sudah meninggal. Adapun bacaan Al Qur`an yang dibaca tanpa upah ( menurut mayoritas Ulama bahwa ta`limul Qur`an diperbolehkan mengambil upah) yang dikirimkan kepada orang yang sudah meninggal, pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji ( yang diqodlo` oleh keluarganya ). Masih menurut Imam Ibnu Taimiyah dan dikuatkan oleh pendapatnya Imam Ibnu Qoyyim dalam kitab yang lain menyebutkan, bahwa pelaksanaan kirim do`a, shodaqoh dll sebagaimana diatas harus diniyati dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal, walaupun tidak disyaratkan dengan talafudz / melafalkan. (Adapun apabila dilafalkan seperti :

اللهمّ اوصِلْ واهدِ ثواب ماقرأناه من القرأن العظيم وما صلينا وما سبّحنا وما هللنا ومااستغفرنا….

Allohumma aushil wa ahdi tsawaba ma qoro`nahu minal Qur`anil `Adhim wa ma sholaina wa ma sabahna wa ma hallalna wa mas taghfarna dst. Maka lebih afdhol ).

Seorang mufti negara Mesir Al `Allamah Syaich Hasanain Muhammad Mahluf telah mengutip pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim, beliau berpendapat: Bahwa menurut madzhab Imam Abu Hanifah, sesungguhnya orang yang melakukan ibadah, baik shodaqoh, membaca Al Qur`an, atau amal baik yang lain, pahalanya dapat dihadiahkan pada orang lain, dan pahala itu akan sampai padanya. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Al Muhibbu At Thobary, bahwa akan sampai pahala ibadah yang dikerjakan semata-mata dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal, baik ibadah wajib maupun sunnah. ( Menurut ihthiyat / kehati-hatian para Ulama apabila ada orang yang sudah meninggal masih meninggalkan sholat, maka sebaiknya keluarganya mengqodlo sholat tersebut, dengan niyat :

اصلّى فرض الظهر اربع ركعات عن ……. لله تعالى

Usholli fardlod dhuhri arba`a roka`atin an fulanin lillahi ta`ala ) .

Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, bahwa orang meninggal yang masih memiliki tanggungan sholat, maka keluarga wajib membayar fidyah yang besarnya 1 mud tiap-tiap 1 kali sholat yang ditinggalkan.

Demikian juga orang meninggal yang masih mempunyai tanggungan puasa Romadhon, maka wajib diqodlo keluarganya, sebagaimana sabda Rosululloh SAW :

من مات وعليه صيام صام عنه ولـيّه ( متّفق عليه )

“ Orang meninggal yang masih memiliki tanggungan puasa, maka wajib diqodlo oleh keluarganya “

Niyatnya sebagai berikut :

نويت أداء فرض الصوم عن …….. المرحوم لله تعالى

Adapun menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik , hanya wajib dibayar kifarat, sebgaimana Hadits Marfu` riwayat Ibnu Umar , Rosululloh bersabda :

من مات وعليه صيام اُطعِمَ عنه مكان كلّ يومٍ مسكينٌ

“ Orang meninggal yang masih memiliki tanggungan puasa, maka wajib dibayarkan berupa makanan pokok kepada orang miskin, sebesar 1 mud sebagai ganti setiap 1 hari puasa ”

Didalam syarah Al Mukhtar disebutkan bahwa : Dibenarkan kepada setiap orang yang hendak menjadikan pahala sholat dan amal baik lainnya, untuk orang lain dan pahala tersebut akan sampai kepadanya. Sebagaimana pendapat Al `Alim Al `Allamah Syaich Muhammad Nawawi bin `Aroby yang menjadi pimpinan para Ulama Hijaz, dalam kitab Nihayatuz Zain, beliau berpendapat : Salah satu bentuk sholat sunnah adalah sholat 2 rokaat untuk orang meninggal di dalam kubur. Pendapat ini didasarkan pada sabda Rosulloh SAW :

لايأتي على المـيّت أشدّ من الليلة الأولى فارحموا بالصدقة من يموت فمن لم يجد فليصلّ ركعتين , يقرأ فيهما اى في كلّ ركعة منهما فاتحة الكتاب مرّةً وأية الكرسيّ مرّةً وألهاكم التكاثر مرّةً وقل هوالله احد عشر مرّاتٍ , ويقول بعد السلام اللهمّ إنّي صليتُ هذه الصلاةَ وتعلم مااُريد , اللهمّ ابعث ثوابـها إلى قبر ….. فيـبعث الله من ساعته إلى قبره ألفَ ملكٍ مع كلّ ملك نورٌ وهديّةٌ يؤنّسونه إلى يوم يُنفخ في الصور

“ Paling berat siksaan bagi orang meninggal adalah keadaan malam pertama, maka belas kasihanilah dengan shodaqoh, apabila tidak ada maka sholatlah 2 roka`at yang mana pada tiap roka`atnya membaca Al Fatihah 1 x , ayat kursi 1 x , Alhakumut takatsur 1 x , dan Al Ihlas 10x , setelah salam berdo`a : Ya Alloh aku mengerjakan sholat ini, dan Engkau mengerti apa yang aku harapkan, Ya Alloh hadiahkan sholatku ini kepada ………….. “

Di dalam kitab Fathul Qodir, diriwayatkan oleh Sayyidina Ali KW,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من مرّ على المقابر وقرأ قل هوالله احد إحدى عشرة ثمّ وهب أجرها للأموات اُعطِي من الأجر بعدد الأموات

Rosululloh SAW bersabda : Barangsiapa lewat di pekuburan, lalu membaca Surat Al Ikhlash 11 x , kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang yang meninggal di dalam pekuburan tersebut, maka ia akan memperoleh pahala sejumlah orang yang meninggal . ( Hadits ini menunjukkan bahwa hadiah bacaan Al Qur`an itu bisa sampai pada orang meninggal, dan yang membacanya juga memperoleh pahala yang besar )

Sedangkan menurut riwayat Anas RA ,

أنّ النبيّ صلى الله عليه وسلم سُئل فقال السائل : إنّـا تصدّق عن موتانا وتحُجَّ عنهم وتدعو لهم , هل يصل ذلك إليهم ؟ قال نعم إنّه لَيَصِلُ إليهم وانّهم ليفرحون به كما يفرح احدكم بالطَبْق اذا اُهدِيَ اليهم

Rosululloh pernah ditanya seseorang , Wahai Rosululloh, aku shodaqoh untuk keluargaku yang telah meninggal, aku juga menghajikan mereka, berdo`a untuknya, apakah bisa sampai pahala-pahala tersebut kepada mereka ? Rosululloh bersabda : Ya , sungguh itu semua sampai kepada mereka, sedangkan mereka merasa bahagia sebagaimana seseorang yang sedang menerima bingkisan.

Didalam kitab Washiyatul Musthofa,

Facebook Comments
About artadiputra 134 Articles
Saya adalah seorang yang selalu ingin memperluas pengetahuan dan bermanfaat bagi banyak orang. Banyak pengetahuan yang saya peroleh secara otodidak. Namun tidak memungkiri bahwa pengetahuan yang saya peroleh secara formal sangat menunjang kemampuan saya saat ini.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan